Selasa, 06 Juli 2010

Kapan Anak Siap Belajar Membaca?

Orang tua yang mempunyai anak usia 3 dan 4 tahun sering kali ragu-ragu untuk memberi pelajaran membaca kepada anak-anaknya. Apakah waktunya tepat? Apakah harus diberikan sebelum mereka bersekolah? Atau menunggu sampai mereka berumur enam tahun, padahal si anak sudah sering bertanya dan ingin sekali mengetahui huruf apa saja yang dilihatnya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini memang agak sukar dijawab karena walaupun si anak sama-sama berumur empat tahun, akan tetapi perkembangan intelektual mereka berbeda-beda.

Pada umumnya, perbedaan-perbedaan perkembangan itu timbul karena latar belakang keluarga yang tidak sama. Demikian pendapat Ullan G. Katz, seorang ahli pendidik anak, khususnya yang berumur antara 3 dan 4 tahun.

Ada seorang anak yang selalu diliputi rasa ingin tahu. Misalnya, Maman. Jika di layar TV ada tulisan, ia sering kali bertanya kepada ibunya. Ia ingin sekali membaca tulisan-tulisan itu karena tidak mau kalah oleh kakaknya yang sudah lancar membaca.

"Bu, ini huruf apa, sih?" tanya Maman sambil membaca koran yang baru saja diantarkan oleh penjualnya. Disodorkannya surat kabar itu kepada ibu. Dengan penuh perhatian, ia mendengarkan jawaban ibu, kemudian dinyanyikannya huruf itu berulang-ulang.

Rasa ingin tahu seorang anak biasanya makin lama semakin besar. Memang seharusnya demikian, malahan sebaiknya orang tua turut membantu menjaga dan memupuk agar rasa ingin tahu itu terus bertumbuh. Orang tua tidak perlu marah atau jengkel jika si anak banyak bertanya. Sebaliknya, orang tua harus bergembira karena timbulnya pertanyaan-pertanyaan itu merupakan suatu permulaan yang baik, yang menunjukkan keinginan belajar membaca.

Untuk melakukan pekerjaan membaca, seorang anak harus sudah mencapai taraf perkembangan jiwa dan jasmani tertentu. Perkembangan seorang anak sangat tergantung pada perlakuan lingkungan terhadap dirinya, terutama orang tuanya. Selain itu, keadaan jasmani bawaan lahir anak juga sangat menentukan. Bila penglihatan atau pendengaran anak itu cacat sejak ia dilahirkan, dengan sendirinya taraf kemampuan anak untuk membaca pun terjadi lebih lambat. Oleh sebab itu, sebagaimana disebutkan di atas tadi, dalam menentukan apakah anak sudah siap belajar membaca, orang tua harus memerhitungkan kematangan dan perkembangan anak, baik jasmani maupun rohani.

Biasanya kesulitan membaca yang dialami anak-anak dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

Anak cukup matang untuk menerima pelajaran membaca. Biasanya umur enam tahun sudah cukup matang untuk mendapatkan pelajaran membaca.

Anak yang selalu diliputi rasa takut, akan takut pula untuk mengenal sesuatu yang baru, misalnya untuk membaca yang sebelumnya belum dipelajarinya.

Bagi seorang anak, ada kalanya diperlukan suatu teknik atau metode khusus. Suatu metode yang cocok untuk sekelompok anak, belum tentu cocok untuk anak lain.

Kematangan anak untuk belajar membaca tercermin pada beberapa kemampuan tertentu pada anak. Misalnya kemampuan melihat, kemampuan mendengar, kemampuan memahami, dan besarnya perhatian. Kemampuan melihat yang baik adalah salah satu unsur utama dalam hal membaca. Oleh karena itu, penglihatan anak harus diperiksa dulu untuk dapat menentukan apakah anak siap membaca atau belum. Kemampuan mendengar diperlukan untuk membedakan bunyi. Kemampuan membedakan bunyi ini kelak akan dapat dipergunakan untuk membedakan pengertian lambang-lambang huruf untuk tiap-tiap bunyi yang diwakilinya. Kemampuan memahami, si anak mengetahui bahwa huruf tertentu adalah lambang dari bunyi tertentu. Pemahaman ini lalu berkembang menjadi pemahaman akan rangkaian huruf-huruf yang merupakan lambang rangkaian bunyi. Perhatian anak yang besar merupakan penggerak dari keseluruhan unsur-unsur utama untuk dapat belajar membaca. Perhatian inilah yang melatih kemampuan anak secara aktif membedakan bentuk-bentuk huruf, bunyi, dan hubungannya dengan hal-hal nyata di sekitar anak.

Menurut Dr. Montessori, anak baru bisa belajar membaca setelah ia bisa menulis dengan baik. Ia harus belajar membaca dengan mendengarkan bunyi dari kata-kata (secara fonetik), lalu mengulanginya lagi sampai ia mengerti. Sering kali, anak bisa membaca pada saat yang bersamaan ketika ia menemukan bahwa ia bisa menulis.

Rata-rata anak yang berumur 4 tahun membutuhkan waktu 1 atau 2 belas bulan mulai dari latihan pertamanya sampai ia bisa menuliskan kata-kata pertamanya, demikian menurut Dr. Montessori. Anak berumur 5 tahun hanya membutuhkan waktu 1 bulan. Selanjutnya, anak membutuhkan waktu dua minggu untuk bisa membaca setelah ia bisa menulis.

Saat ini, metode Montessori untuk mengajar membaca dan menulis merupakan salah satu yang paling baik dan sempurna. Kebanyakan dari program Montessori ditujukan untuk melatih kelima panca indra anak dan diharapkan agar anak bisa merasakan kegembiraan karena dapat berkomunikasi melalui tulisan dan bacaan.

Telah kita ketahui bahwa setiap anak, kecuali yang sangat terbelakang, akan belajar menggunakan bahasa yang digunakan lingkungannya. Ia akan menggunakannya dengan baik sebelum berumur lima tahun. Ia juga akan memiliki logat bahasa, perbendaharaan kata-kata, dan tata bahasa. Dan ia belajar bahasa itu tanpa susah payah, tanpa pendidikan formal, tanpa tekanan, dan biasanya disertai semangat dan kegembiraan. Ia juga belajar bahasa lebih mudah pada tahun-tahun ini dibandingkan pada masa-masa berikutnya oleh karena keadaan fisik otaknya yang sedang berkembang. Sumber: http://www.sabda.org/c3i/kapan_anak_siap_belajar_membaca

Melatih Anak Agar Suka Membaca

Menilik begitu banyak manfaat yang bisa diperoleh dari buku, sangat disarankan bila orangtua mulai memperkenalkan buku kepada anak sedini mungkin. Selain mengenalkan anak pada fisik buku, kegiatan mendongeng juga dinilai mampu memacu anak gemar membaca.

Agar anak mengerti bagaimana cara memperlakukan dan menggunakan buku, ajak si kecil duduk di pangkuan Anda lalu ajak ia melihat-lihat buku dengan sedikit teks tapi sarat gambar. “Tunjukkan bagaimana cara Anda membaca gunakan telunjuk untuk menunjuk barisan kalimat yang dibaca dan meneruskan ke halaman berikutnya,” saran Kathleen Martin, Ph.D, profesor pendidikan dari Universitas Alabama, Birmingham, AS. Ini bisa memberikan ajakan belajar membaca kepada anak.

Selain itu, lewat suara yang Anda tuturkan saat membacakan cerita dalam buku, anak akan terbiasa dengan perbedaan intonasi suara. Ini merupakan suatu metode belajar buat anak. Secara tidak langsung, kita pun membantu menambah perbendaharaan kata anak. Penelitian juga menunjukkan, anak yang terbiasa mendengarkan dongeng akan lebih cepat membaca.

Untuk anak usia di bawah dua tahun, pilihlah metode belajar membaca dengan cerita sederhana mengenai sesuatu yang ada di rumah dan dikenalnya. Misalnya mengenai kucing atau topi. Di usia ini yang terpenting adalah mengenalkan ia pada buku, karena itu jangan putus asa bila si kecil lebih suka menyobek atau bahkan memasukkan buku ke mulutnya. Agar buku tidak rusak karena disobek anak, pilihlah buku yang terbuat dari kain.

Makin besar usia anak, Anda bisa mengajaknya membaca bersama-sama. Agar anak bisa menghayati cerita, biarkan ia ikut berinteraksi, baik lewat komentar atau memberi kesempatan pada anak untuk menirukan tokoh dalam cerita. “Yang penting adalah menunjukkan kepada anak bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan,” kata Martin.
kompas.com


lihat video metode belajar menyenangkan untuk anak usia 3 - 8 tahun:

LIPUTAN 6 SCTV

Senin, 31 Mei 2010

cantol roudhoh

Setiap anak senang menyanyi, mendengar cerita dan menonton. Anak akan cepat menghafal setiap lagu yang didengar dan mudah mengingat setiap apa yang ditonton. Media ini sangat efektif sebagai sarana belajar dengan konsep BERMAIN SAMBIL BELAJAR.

Metode Cantol adalah salah satu tekhnik menghapal yang dikembangkan dalam "Quantum Learning". Dalam penerapannya, metoda ini bersosialisasi dalam persamaan bunyi dan bentuk visual. Sebagai contoh salah satu teknik menghapal dengan metode Cantol adalah ketika di SMA, ada suatu pelajaran dari ilmu kimia tentang menghapal unsur kimia, di antaranya menghapal unsur golongan VII A yang terdiri dari unsur Helium, Neon, Argon, Kripton, Xenon dan Rn.
Untuk memudahkan menghapal dibuatlah kalimat, yaitu: hehoh negara argentina karena xenat runtuh. Dengan mudah dapat menghapal nama-nama unsur kimia tiap golongan. Metode ini pernah diliput di liputan 6 SCTV. untuk pemutaran videonya dapat dilihat pada link di bawah:

Dalam pengenalan suku kata, irama bunyi tiap kelompok sama yaitu: a, i, u, e, o. Apabila anak sudah dapat menangkap titian ingatan ini sama dengan kelompok-kelompok suku kata lainnya, maka ia sudah dapat menduga suku kata kelompok lain yang belum dikenalkan kepadanya. Apabila ia sudah dapat mengenal huruf dari a sampai z, maka ia dapat menebak dengan benar bunyi suku kata tersebut. Misalnya ia baru dikenalkan pada kelompok suku kata ga, gi, gu, ge, go. Apabila titian ingatan sudah dipahami, maka ia dapat mengetahui kelompok lainnya dari huruf yang ia kenal. Ia akan mengetahui bunyi kelompok ha, ja, dan selanjutnya. Jadi ia akan cepat sekali mengenal seluruh suku kata. Tetapi bagi anak yang belum mengetahui huruf perlu suatu kerangka pikiran yang dapat membantu untuk mengingatnya dengan mudah. Di sinilah metode Cantol sangat efektif dalam membantu kerangka pikiran anak bagi anak yang belum kenal huruf. Terlebih-lebih anak yang sudah mengenal huruf.